
Jakarta, Rabu Pon, 28 Oktober 2026 — Keprihatinan terhadap meningkatnya kasus kekerasan di kalangan anak usia sekolah menjadi titik awal lahirnya Gerakan Guru Bangsa. Fenomena perundungan, kekerasan antarpelajar, hingga kasus yang berujung pada hilangnya nyawa mendorong Fernando Situmorang, yang akrab disapa Nando, untuk menggagas gerakan kerelawanan yang berfokus pada pendidikan dan pembentukan karakter generasi muda.
Gagasan tersebut kemudian didiskusikan bersama Mikhail Gorbachev Dom dan Norman Lianto. Ketiganya berpandangan bahwa Indonesia membutuhkan gerakan yang mampu menghadirkan keteladanan, sekaligus menegaskan bahwa pendidikan tidak semata-mata berorientasi pada kecerdasan akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter, kepedulian sosial, dan penghormatan terhadap sesama anak bangsa.
Terinspirasi oleh sosok Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo, mereka sepakat mengusung nama Guru Bangsa dengan slogan “Setara untuk Indonesia”. Gerakan ini diarahkan untuk berkontribusi dalam melindungi dan mempersiapkan generasi menuju Indonesia Emas, termasuk anak-anak yang saat ini masih menempuh pendidikan di bangku sekolah dasar.
Dari Gagasan Menjadi Gerakan Kerelawanan
Melalui pendekatan kawan mengajak kawan, gagasan tersebut berkembang hingga terbentuk kelompok sembilan orang yang dikenal dengan sebutan Nawa Guru. Kelompok ini terdiri atas individu dengan latar belakang dan keahlian yang beragam, yakni Bun Joi Phiau, Anggota DPRD DKI Jakarta; Susy Rizky, pegiat sosial; Yudi Saputra, organisatoris; Santo Feliks, Praktisi hukum; Siti Aisah, Praktisi hukum; Maria, pengamat pertahanan; serta sejumlah penggagas lainnya.
Seiring berkembangnya gagasan tersebut, sejumlah anggota kemudian bersepakat untuk mendirikan Relawan Guru Bangsa sebagai wadah kolaborasi bagi masyarakat yang ingin berkontribusi dalam membantu peserta didik yang membutuhkan dukungan di berbagai wilayah Indonesia.
Para penggagas juga sepakat menempatkan Joko Widodo sebagai figur Guru Bangsa yang merepresentasikan keteladanan dan semangat pemerataan akses pendidikan. Menurut mereka, berbagai upaya di bidang pendidikan selama masa kepemimpinannya perlu dilanjutkan melalui partisipasi masyarakat. Atas dasar itu, siluet Joko Widodo dipilih sebagai salah satu unsur visual dalam logo gerakan tersebut.
Meski mengangkat figur publik sebagai inspirasi, para pendiri menegaskan bahwa Guru Bangsa bukanlah gerakan politik. Sebaliknya, gerakan ini dibangun sebagai wadah sosial yang inklusif, terbuka bagi siapa pun tanpa memandang latar belakang, pilihan politik, maupun profesi, sepanjang memiliki kepedulian terhadap kemajuan pendidikan Indonesia.
Semangat yang ingin diadopsi adalah pemerataan kesempatan bagi seluruh anak Indonesia untuk memperoleh pendidikan. Salah satu inspirasi yang disoroti adalah program Kartu Indonesia Pintar (KIP), yang dipandang sebagai bagian dari upaya memperluas akses pendidikan. Semangat kesetaraan tersebut kemudian dirangkum dalam slogan “Setara untuk Indonesia”.
Peluncuran Publik dan Penyaluran 900 Buku Gambar
Menyadari bahwa gerakan ini membutuhkan dukungan yang lebih luas daripada sekadar sembilan orang penggagas, Nando bersama Nawa Guru meluncurkan Gerakan Guru Bangsa di kawasan Cikini, Jakarta, pada Rabu, 28 Oktober 2026. Peluncuran tersebut menjadi momentum untuk memperkenalkan visi, misi, serta kegiatan sosial yang telah dan akan dijalankan kepada masyarakat luas.
Dalam kesempatan itu, para penggagas memaparkan kegiatan awal berupa penyaluran sekitar 900 buku gambar, krayon, dan perlengkapan tulis kepada anak-anak sekolah yang membutuhkan.
“Kami masing-masing sudah dan sedang bergerak di wilayah kami untuk membantu menyalurkan 900 buku gambar, krayon, serta alat tulis dari Guru Bangsa kepada anak-anak sekolah,” ujar Nando.
Program tersebut tidak hanya ditujukan untuk membantu memenuhi kebutuhan perlengkapan belajar, tetapi juga memberikan ruang bagi anak-anak untuk mengekspresikan kreativitas melalui kegiatan menggambar dan berkesenian.
Mikhail Gorbachev Dom menjelaskan bahwa pemilihan buku gambar sebagai salah satu bentuk bantuan dilatarbelakangi oleh keprihatinan terhadap maraknya konten kekerasan dan ujaran negatif di media sosial.
“Pembagian buku gambar kami pilih karena saat ini media sosial dipenuhi konten kekerasan, cacian, dan makian. Kami berpikir anak-anak perlu mendapatkan alternatif kegiatan yang lebih positif agar tidak terus terpapar konten seperti itu,” ungkap Gorbachev.
Sementara itu, Norman Lianto menilai seni memiliki peran penting dalam pendidikan karena dapat menyeimbangkan perkembangan intelektual dengan kepekaan emosional dan pembentukan karakter.
“Perdebatan mengenai ijazah Pak Jokowi maupun Mas Gibran yang muncul di televisi nasional terkadang memberikan kesan bahwa segala sesuatu harus berorientasi pada nilai dan pencapaian akademik. Padahal, kegiatan seni seperti menggambar juga penting karena membantu anak mengembangkan rasa, kreativitas, dan kepekaan sejak usia dini,” kata Norman.
Mendorong Kolaborasi dan Partisipasi Masyarakat
Guru Bangsa juga membuka ruang kerja sama dengan berbagai komunitas, lembaga, maupun individu yang ingin berkontribusi dalam kegiatan sosial dan pendidikan.
Bun Joi Phiau, anggota DPRD DKI Jakarta yang akrab disapa BJP, menyampaikan bahwa jejaring sosial yang dimilikinya turut membantu membuka peluang dukungan bagi program tersebut, termasuk melalui sumbangan perlengkapan menggambar.
“Saya berada di DPRD sehingga memiliki kesempatan untuk bertemu dan berjejaring dengan banyak orang. Ada yang ingin ikut menyumbang, seperti krayon yang saya terima beberapa waktu lalu. Alhamdulillah, bantuan tersebut dapat dibagikan kepada anak-anak melalui teman-teman Guru Bangsa,” ujarnya.
Antusiasme masyarakat juga menjadi harapan bagi perkembangan gerakan ini. Susy Rizky meyakini bahwa kepedulian sosial merupakan modal penting untuk membangun partisipasi yang lebih luas.
“Pada dasarnya, masyarakat Indonesia memiliki kepedulian yang besar. Saya yakin akan semakin banyak orang yang bergabung. Di Bekasi, tempat saya beraktivitas, beberapa orang sudah menanyakan cara bergabung setelah melihat kegiatan pembagian buku gambar ke sejumlah sekolah,” tutur Susy.
Ke depan, Guru Bangsa menargetkan pembentukan jaringan relawan di berbagai daerah di Indonesia. Struktur organisasi direncanakan berkembang secara bertahap mulai dari tingkat provinsi hingga desa, dengan semangat kerja sama dan pengabdian kepada masyarakat.
“Harapannya, struktur Guru Bangsa dapat terbentuk di seluruh Indonesia. Bahkan sebelum peluncuran resmi, melalui komunikasi dari mulut ke mulut, sudah ada pihak yang menyatakan minat untuk bergerak di Papua. Setelah peluncuran ini, kami semakin optimistis bahwa Guru Bangsa dapat berkembang menjadi gerakan yang lebih luas,” kata Yudi Saputra.
Bantuan Hukum Gratis dan Pengembangan Kegiatan Sosial
Selain bergerak dalam bidang pendidikan, Guru Bangsa juga merencanakan pengembangan kegiatan kerelawanan di sektor sosial lainnya. Salah satu program yang disiapkan adalah bantuan hukum gratis bagi masyarakat yang membutuhkan.
Santo Feliks menjelaskan bahwa keberagaman profesi dan keahlian para relawan menjadi modal untuk memperluas bentuk pelayanan kepada masyarakat.
“Anggota Guru Bangsa berasal dari berbagai latar belakang, termasuk praktisi hukum. Karena itu, kami berencana menghadirkan bantuan hukum gratis. Ke depan, bentuk kegiatan sosial lainnya juga dapat dikembangkan sesuai dengan kompetensi para relawan, misalnya pelayanan kesehatan apabila terdapat tenaga medis yang bersedia terlibat,” ujarnya.
Siti Aisah menambahkan bahwa pemahaman hukum merupakan kebutuhan penting bagi masyarakat. Tidak sedikit warga yang mengalami kesulitan memahami persoalan hukum dan membutuhkan pendampingan untuk mengetahui hak serta kewajibannya.
“Indonesia merupakan negara hukum, tetapi dalam praktiknya masih banyak masyarakat yang merasa bingung ketika menghadapi persoalan hukum. Melalui Guru Bangsa, kami ingin membantu masyarakat memahami persoalan hukum secara lebih baik dan memberikan bantuan secara gratis sesuai dengan kemampuan serta ruang lingkup pelayanan yang dapat kami lakukan,” jelas Aisah.
Melalui rencana tersebut, Guru Bangsa berharap dapat tumbuh sebagai gerakan kerelawanan yang tidak hanya mendukung pendidikan anak, tetapi juga berkontribusi terhadap peningkatan kesejahteraan dan pemberdayaan masyarakat.
Menjaga Nilai Kebangsaan melalui Pendidikan yang Setara
Peluncuran Guru Bangsa berlangsung dalam suasana hangat dan dialogis, diwarnai diskusi antara para penggagas dengan awak media mengenai latar belakang pembentukan, program kerja, dan arah pengembangan gerakan.
Pada akhir kegiatan, Maria menekankan pentingnya menjadikan nilai-nilai kebangsaan sebagai landasan dalam membangun sistem pendidikan yang menghargai keberagaman, menolak perundungan, dan mengutamakan pembentukan karakter.
Menurutnya, pemikiran Ki Hadjar Dewantara sebagai tokoh pendidikan nasional perlu terus diaktualisasikan dalam praktik pendidikan masa kini. Pendidikan seharusnya tidak hanya mengembangkan kemampuan berpikir, tetapi juga menumbuhkan budi pekerti, rasa kemanusiaan, dan penghormatan terhadap perbedaan.
“Indonesia memiliki Ki Hadjar Dewantara sebagai tokoh pemikir pendidikan yang gagasannya tetap relevan hingga saat ini. Apabila nilai-nilai pendidikan tersebut diterapkan secara sungguh-sungguh, kita berharap perundungan dapat dicegah sejak dini. Keberagaman juga harus menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan berbangsa. Bhinneka Tunggal Ika merupakan prinsip yang harus kita jaga bersama. Karena itu, Guru Bangsa akan terus menyuarakan semangat ‘Setara untuk Indonesia’,” tutup Maria.
Melalui peluncuran ini, Relawan Guru Bangsa mengajak masyarakat untuk menjadikan kepedulian terhadap pendidikan sebagai gerakan bersama. Dengan kolaborasi, kesetaraan kesempatan, dan penguatan karakter sejak dini, Guru Bangsa berharap dapat mengambil bagian dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, inklusif, kreatif, serta bebas dari kekerasan demi masa depan generasi Indonesia.
https://www.instagram.com/gurubangsa.official?vrfl=c2F2N2J4NHBkMHZl